Langsung ke konten utama

kamu itu, moodbooster-ku!




Kamu itu moodboosterku...
Bukan mauku menjadi gadis moody yang penuh teka-teki.
Entah kenapa dan apa yang salah denganku, aku selalu saja membuat mood-ku jatuh tersungkur dengan mudah. Semudah Paris Hilton mengganti pacar.
Hanya karena hal sepele, dan pikiran yang sepele, aku bisa membuat orang-orang di sekitarku geleng-geleng kepala atas moodku yang tiba-tiba berubah dan menjadi tak ramah.
Termasuk kamu.
Kamu bahkan tidak tahu apa yang sedang aku pikirkan ketika aku mengetik pesan singkat untukmu. Tapi kamu, selalu membalas dengan senyum memancar pada tiap pesan singkat yang datang ke ponsel-ku.
Kamu itu moodbooster-ku.
Ketika aku rasakan moodku mulai turun naik tak menentu, hanya karena adikku yang asik menyanyi disaat aku sedang datang bulan hari pertama. Pesan singkat darimu mampu meluluhkan amarahku. Dengan satu sequel gombalan nan manis darimu, aku mampu tersenyum manis.
Kamu itu moodbooster-ku.
Ketika para dosen tak mengerti betapa keluhanku menumpuk untuk mereka, kamu datang dengan tatapan teduh dan menjanjikan satu hari jalan-jalan bersamamu, bebas biaya akomodasi dan transportasi. Eksklusif, hanya untukku.
Kamu itu moodbooster-ku.
Dengan sebatang cokelat yang selalu dan selalu mampu menaikkan mood-ku yang nyaris tersungkur setara tanah, kamu selalu bilang “Mau cokelat gak? Kalo mau, senyum dong, manis...” suaramu lembut membelai telinga dengan tatapan mata yang tajam namun senyum yang nakal itu, perpaduan sempurna hingga aku mampu tersenyum selebar pintu terbuka.
Kamu moodbooster-ku, seseorang yang mampu membuatku merasa istimewa melebihi Kate Middleton di negeri Inggris sana.
Kamu moodbooster-ku, seseorang yang mampu menasehatiku sedewasa kakak, dan mampu membuatku tertawa karena kata-kata yang sepolos anak-anak.

Untukmu, moodbooster-ku.
Kukatakan ini dengan penuh rasa cita dan cinta.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Pengakuan Kinan

Aku berjalan cepat mengejar bis yang setiap harinya menuntutku untuk lebih gesit dari hari kemarin. Kaki-kaki kecilku melompati genangan demi genangan air sisa hujan semalam. Aku, dengan setelan serba gelap, seragam yang dibalut cardigan hitam, rok abu-abu, black flat shoes , dan tas hitam yang menggantung di pundak tangan kananku. Kaki-kaki kecilku semakin lambat berlari. Deru nafasku semakin jelas terdengar, naik-turun, tak terkendali. Rasanya lelah setiap pagi harus mengejar bis yang sama agar aku bisa sampai di sekolahku yang sangat-sangat jauh itu dengan biaya yang sangat-sangat murah. Jari-jariku melepaskan tiga lembar uang ribuan ke tangan kenek bis yang terus-menerus menggerakkan lengannya naik-turun hingga timbul dentingan-dentingan dari koin yang saling beradu. Aku mendapat kursi di belakang sopir bis. Beruntung, pagi ini aku tidak berdiri dengan tangan kanan terangkat, walaupun, teman sebangku-ku ini juga tidak bisa dikatakan beruntung, bapak setengah ...

Langga :)

Ini adalah sepenggal kisah tentang cinta. Cinta yang terluka dan sempat menyisakan sesal di dada. Anak laki-laki itu bernama Langga. Belakangan aku tahu dia anak SMA swasta untuk kalangan menengah ke bawah yang ada di kawasan sekolahku. Aku tahu namanya Langga, karena nama itu terpampang jelas di bagian kiri seragamnya ketika dia lupa memakai jaket kesayangannya. Jaket biru tua yang hampir lusuh dan hampir setiap hari dia pakai. Kini aku sudah kelas 3. Sudah masa-masanya mendekati Ujian Nasional yang katanya momok menakutkan bagi mayoritas siswa kelas 3. Dan karena momok itulah, tenagaku terkuras habis setiap harinya. Aku mengikuti bimbel di lebih dari satu tempat. Pertama, bimbel di sekolahku sendiri dari siang sampai sore, dan kedua bimbel di kawasan Padjajaran pada hari Selasa, Kamis dan Sabtu dari pukul tujuh sampai sembilan malam. Sungguh melelahkan tubuh dan pikiran, bukan? Phew. Tapi karena bimbel inilah, aku punya sesal dalam dada. Malam itu aku baru sa...

Namaku, Rindu...

Namaku Rindu, Ketika kita tidak saling bertemu Ketika panca indra tak mampu merasakan kehadiran kamu Ketika raga tak bisa lagi merasakan sentuhanmu Dan ketika detak jantung sudah tak berirama jika mengucap namamu Panggil aku rindu, Perasaan sesak di dada yang tak mampu menuruti keinginan jiwa Perasaan sakit saat aku tahu bahwa kamu tak ada lagi di sekeliling raga Aku rindu dan aku tersiksa Sebut aku rindu, Saat air mata menjadi bukti nyata adanya rasa pilu Saat hanya air mata yang mampu ikut merasakan rasa itu Saat air mata, adalah satu-satunya ekspresi jiwa yang bisa diluapkan seketika itu Ketika rindu itu merajalela Aku rindu dan aku sengsara Kenapa kamu harus pergi begitu jauh? Kenapa harus ada jarak untuk perasaan kita? Dan kenapa aku tak mampu untuk menerima jawaban yang ada... Kamu... aku rindu kamu.. Aku tak ingin menyalahkan keadaan, tapi keadaan memaksaku untuk mengumpatnya. Aku benci rasa rindu.. Sesak, kosong, dan merana.. Aku...