Langsung ke konten utama

Langga :)



Ini adalah sepenggal kisah tentang cinta.
Cinta yang terluka dan sempat menyisakan sesal di dada.


Anak laki-laki itu bernama Langga. Belakangan aku tahu dia anak SMA swasta untuk kalangan menengah ke bawah yang ada di kawasan sekolahku.
Aku tahu namanya Langga, karena nama itu terpampang jelas di bagian kiri seragamnya ketika dia lupa memakai jaket kesayangannya. Jaket biru tua yang hampir lusuh dan hampir setiap hari dia pakai.
Kini aku sudah kelas 3. Sudah masa-masanya mendekati Ujian Nasional yang katanya momok menakutkan bagi mayoritas siswa kelas 3. Dan karena momok itulah, tenagaku terkuras habis setiap harinya.
Aku mengikuti bimbel di lebih dari satu tempat. Pertama, bimbel di sekolahku sendiri dari siang sampai sore, dan kedua bimbel di kawasan Padjajaran pada hari Selasa, Kamis dan Sabtu dari pukul tujuh sampai sembilan malam. Sungguh melelahkan tubuh dan pikiran, bukan? Phew.
Tapi karena bimbel inilah, aku punya sesal dalam dada.

Malam itu aku baru saja selesai dari tempat bimbelku di kawasan Padjajaran dan berniat untuk pulang. Dia, Langga, entah sejak kapan berdiri di parkiran depan tempat bimbelku berada dan menatapku tanpa berkedip. Karena aku tidak mengenalnya, tentu saja aku mengacuhkannya. Aku menuruni beberapa anak tangga dengan hati-hati karena efek malam yang gelap. Cukup lama aku berdiri menunggu angkutan umum lewat.
Jujur saja, aku bukan berasal dari keluarga yang dibilang kelewat kaya, tapi juga tidak sangat sengsara. Aku hidup dengan pas-pas-an, pas mau ke salon, ya aku ke salon, pas mau belanja juga aku tinggal belanja. Yah, pokonya uang saku milikku masih pas untuk itu semua.
Tapi, dengan pola hidup yang pas-pas-an itu, aku malah lebih suka pulang bimbel diantar angkutan umum daripada menunggu Taxi seperti pesan mama. Entahlah, aku suka saja duduk dalam angkutan umum bersama orang-orang yang baru pulang kantor atau baru pulang bimbel seperti aku ini dan memperhatikan wajah-wajah letih mereka. Aku juga suka menatap pohon-pohon besar yang seperti bercahaya akibat pantulan dari lampu-lampu di jalanan dan seperti melambaikan rantingnya pelan-pelan ketika terlewati oleh angkutan yang aku naiki.
Mereka seperti tersenyum padaku. Mengingatkan aku untuk tersenyum, mengingatkan aku bahwa mereka saja bisa bertahan berdiri tegar di tengah jalanan yang keras dan melaksanakan kewajiban mereka untuk mengganti karbon dioksida menjadi oksigen tanpa menjadikan itu beban sekalipun karbon dioksida yang harus mereka ganti amat sangat banyak dan tak pernah berhenti.
Lalu kenapa aku malah mengeluh hanya karena jadwal bimbel yang padat dan adanya Ujian Nasional? Toh itu sudah kewajibanku. Begitulah caraku membangkitkan semangat. Hanya dengan duduk di angkutan yang berisikan orang-orang berwajah letih, aku seperti punya teman seperjuangan. Dan hanya dengan melihat belasan pohon besar yang melambai, aku seperti punya semangat juang.
Yah, itulah aku.
Selesai melamun, aku dikejutkan dengan suara klakson angkutan umum yang datang. Segera saja aku naik dan duduk di belakang bangku supir. Dibarengi anak laki-laki bernama Langga itu, yang duduk di sebelahku. Sampai aku turun dan tiba di rumah.
...
Kamis malam.
Lagi-lagi aku melihat dia, Langga naik angkutan yang sama denganku. Hanya, kali ini dia naik beberapa meter setelah aku naik. Dan dia duduk di jajaran bangku di hadapanku karena di sebelahku kini ada yang menempati. Aku menatap Langga sesaat, dan dia tersenyum. Alisku seketika terangkat, lalu aku memalingkan muka menatap pohon-pohon besarku lagi.
...
Sabtu malam.
Anak laki-laki bernama Langga itu kini duduk di sebelahku. Aku di pojok, dan dia di sebelah kananku. Wangi parfumnya samar-samar menelusup di sela-sela hidungku. Yah, wangi yang maskulin, dan lumayan mengguggah. Aku perhatikan, dia selalu naik angkutan yang sama denganku setiap aku pulang bimbel. Dan aku juga perhatikan, dia selalu memakai jaket biru tua dengan corak garis putih di sepanjang lengannya dipadu celana SMA dan masih membawa tas sekolah setiap aku melihatnya satu angkutan denganku. Apa dia satu tempat bimbel denganku yah?
...
Ini hari Senin, dan hari ini aku baru tahu kalau ternyata, anak laki-laki yang belakangan sering satu angkutan denganku sepulang bimbel itu adalah salah satu siswa dari SMA tetangga. SMA khusus untuk anak laki-laki alias STM yang sebenarnya cukup berprestasi. Dan belakangan juga aku tahu namanya Langga dari salah seorang temanku yang disebut-sebut ‘tukang gosip’ di sekolah.
“Hey, Langga ngeliatin lu mulu tuh!” Sikut si ‘tukang gosip’ padaku.
“Langga? Siapa?” Tanyaku singkat, karena aku sedang asyik menikmati soto daging yang masih hangat.
“Itu... cowok yang pake jaket biru. Tuh, yang cakep!” Ujar ‘si tukang gosip’ makin menyikutku. Dan mulai mengganggu kenikmatan makan siangku.
Aku tak menghiraukannya. Perutku sedang kelewat lapar sekarang.
“Hey! Serius ih, Langga senyum cool banget sama lu! Ayo liat dulu napa?!” Ujar Denok -‘si tukang gosip’- agak mengguncang meja.
“Heh! Lu tuh yah, nggak liat orang lagi makan apa ya?! Ganggu aja sih!” Aku akhirnya naik darah juga. Denok –‘si tukang gosip’- sedikit terperanjat karena suaraku yang agak meninggi. Lalu dia menutup mulutku dengan tangannya.
“Iya iya, biasa aja kali. Gua kan cuma ngasih tau aja. Dasar, makan mulu tapi nggak gede-gede.” Denok mencibir. Dan aku mendengus.
Sekilas mataku melihat ke arah sekumpulan laki-laki yang duduk di seberang mejaku. Dan aku mendapati senyuman maskulin yang dibilang Denok dari bibir anak laki-laki yang menggunakan jaket biru yang aku kenal itu.
Oh, ternyata namanya benar Langga.
...
Selasa malam. Dan hujan.
Aku mematung di depan gedung bimbel. Aku terpaksa harus menunggu hujan reda karena aku tidak membawa payung. Sial.
Hanya beberapa menit mematung, tiba-tiba ada seorang anak kecil dengan ojek payung menghampiriku dan menawarkan jasanya.
“Payung teh?” Katanya.
Aneh. Seingatku, di daerah sini tidak ada ojek payung yang suka berkeliaran. Tapi karena aku memang butuh dan kebetulan dia menawarkan padaku, bukan pada konsumen lain, langsung saja aku menerimanya.
“Sampe naik angkot yah..” Kataku.
Lalu kami berdua mematung di bawah pohon besar depan tempat bimbelku.
Sepuluh menit kemudian, aku sudah naik angkot dan bersiap membayar ‘bocah penjajak payung’ itu sebelum akhirnya dia lari entah kemana. Iya, dia tidak mau aku bayar. Dan aku tidak mau ambil pusing soal itu, mungkin memang sudah rejekiku.
Selang beberapa meter. Dia, Langga, naik ke angkutanku dan duduk di sebelah kananku lagi. Celananya basah dan dingin. Setelah beberapa detik menaiki angkutan, dia membuka jaket kesayangannya dan menyeruakkan wangi khasnya yang cowok abis.
Tumben sekali malam itu macet. Dan aku sudah sangat ingin bertemu kasurku yang nyaman karena kelelahan akut. Mataku sudah mulai terkatup-katup, dan kepalaku sudah mulai kehilangan keseimbangannya.
Aduh, aku amat mengantuk.
Aku mencoba menenggelamkan mukaku di dalam kedua tangan yang tertopang oleh lutut, semoga bisa menahan kantuk. Namun beberapa detik kemudian, kepalaku terasa terjatuh dari atas tebing dibarengi rasa kaget di dalam hati. Aku mengerjap.
Satu menit berusaha terjaga, akhirnya aku tak merasakan apa-apa lagi. Gelap. Sebentar aku merasakan kepalaku jatuh di atas sesuatu yang kokoh namun nyaman karena dorongan dari sebelah kiri kepalaku. Dan aku juga merasakan sesuatu yang hangat menyelimuti ragaku malam itu.
...
Keesokan harinya, aku membuka mata dan mendapati wajah mama yang lembut tengah duduk di sampingku.
“Ma?” Aku memanggil pelan.
“Eh, kamu udah bangun... sini, mama pegang jidat kamu, masih panas nggak?”
Lalu mama menggerayangi wajah dan leherku.
“Belum turun..” Mama memasang wajah sedih.
“Ini jam berapa, ma?” Aku bertanya lagi.
“Jam 8 mungkin. Kenapa?”
“Loh? Aku nggak sekolah?”
“Gimana mau sekolah, sayang? Kamu itu lagi demam, semaleman aja kamu ngigau yang aneh-aneh. Langga lah, payung lah.. Mama udah minta izin kok sama sekolah kamu.”
Mendengar perkataan mama, aku tiba-tiba teringat.
“Ma? Yang bawa aku pulang siapa semalem?”
Mama melirikku. “Cowok, pakai jaket biru tua. Dia bilang kamu sakit, jadi dia anter kamu pulang sehabis bimbel. Anaknya cakep, wangi juga. Siapa namanya, ya?” Mama mulai mengingat-ingat.
Dahiku ikut berkerut. “Langga?” Tanyaku agak ragu.
Mama menjetikan jari, “Ah iya, Langga kalau nggak salah.”
Berbarengan dengan respon mama, aku makin mengerutkan dahi ditambah bibir yang mulai menganga sekarang.
Langga nggak kenal gua tapi kenapa dia baik sama gua? Bahkan dia tau rumah gua? Pikirku keheranan.
...
Kamis malam.
Aku mendapati Langga lagi di sampingku. Sudah dua minggu lebih Langga bertingkah seperti ini. Dia selalu menaiki angkutan yang sama denganku, bahkan sering duduk dekat sekali denganku tapi dia tidak pernah bertanya atau bahkan menyapaku sekalipun.
Dia hanya tersenyum. Manis dan mempesona.
...
Sabtu malam.
Aku tidak menemukan Langga di angkutanku. Tumben sekali dia absen? Aku pikir dia tidak akan absen dari menaiki angkutan yang sama denganku ini? Pikirku. Hari ini aku memang keluar kelas lebih lama karena asyik berbincang tentang beasiswa ke luar negeri bersama guru bahasa Inggrisku.
Beberapa waktu berlalu. Entah kenapa rasanya ada yang kurang dari angkutan umum ini. Tidak ada Langga, angkutan ini jadi tidak nyaman. Entah kenapa rasanya jadi tidak aman. Beberapa kali aku melihat keluar jalan, berharap mendapatkan rasa nyaman dari pohon-pohon besar yang agaknya terlupakan karena kehadiran Langga di angkutanku beberapa waktu kemarin. Namun, hasilnya nihil. Aku malah merasakan rindu pada Langga.
Sesampainya di rumah, aku segera mandi, makan lalu bersiap tidur. Tapi, tidak seperti biasanya, aku malah sulit tertidur, padahal badanku terasa sangat letih. Aneh.
Aku putuskan membaca sebuah buku bacaan. Tapi yang ada di pikiranku hanyalah Langga. Jadilah hanya Langga yang terbayang. Pokoknya, Senin nanti gua harus bisa ngobrol sama Langga. Hatiku memutuskan saat mataku mulai terpejam.

Aku melihat Langga, di trotoar tempat biasanya dia memberhentikan angkutan yang aku duduki. Tersenyum lemah saat aku melihatnya dari balik kaca angkutan yang bening. Tapi dia tidak naik, dia diam saja dan hanya tersenyum lemah. Jaket biru tua nya terlihat seperti basah padahal hari tidak hujan. Aku panik dan berusaha berteriak untuk meminta angkutan ini berhenti tapi suaraku malah tercekat. Angkutanku melaju secepat trem dan meninggalkan siluet Langga yang mulai menghilang.

Aku membuka mata dengan cepat. Keringat mengucur dari pelipis dan beberapa bagian tubuhku. Syukurlah, hanya mimpi.
...
Senin pagi.
Aku mengajak Denok makan soto daging lagi di tempat langganan kami.
“Mau cabut?” Tanya Denok.
“Satu pelajaran aja. Mau liat anak STM nih. Hehe.” Kataku ringan.
“Ooh,, mau cuci mata? Tumben...” Denok nyinyir.
Aku menikmati soto daging dengan mata yang awas ke arah STM di sebelah sekolahku. Berharap bisa melihat sosok Langga yang aku cari, kalau tidak bertemu hari ini pun, aku yakin pasti akan menemukan dia besok malam sepulang bimbel.
“Cari siapa sih?” Denok menyadari mataku yang jelalatan.
Aku mendelik. “Nggak, cuci mata aja.” Kataku singkat.
“Eh, lu tau nggak?” Denok mulai berkoar.
“Apa? Gosip apa lagi?” Aku agak ketus.
Denok mengernyit. “Yeeee, ini bukan gosip. Serius. Gua dapet kabar dari anak-anak STM sebelah waktu lagi kongkow kemaren di mancur.”
“Apaan?” Aku menjawab malas.
“Tapi lu jangan sedih yah, harus kuat.” Denok menepuk punggungku pelan.
Aku mengernyitkan alis. “Apaan sih lu? Cepetan ngomong deh, lamaaa.”
“Lu masih inget nggak cowok yang kata gua ngeliatin lu waktu makan soto Senin kemaren? Yang namanya Langga anak STM sebelah itu?”
Mendengar kata Langga, aku segera sigap dan antusias. Aku membalikkan tubuhku menghadap Denok.
“Iya, inget. Kenapa? Eh, lu kenal Langga yah? Dia kayak apa sih orangnya?” Aku mulai kepo.
“Yee, dengerin dulu! Lu tau nggak? Kemaren, Langga ditemuin berdarah-darah sama polisi..” Seketika ucapan Denok seperti parang yang pas sekali menusuk jantungku pagi itu. Aku menganga.
“Hah? Jangan bercanda, Nok! Nggak lucu!” Aku menyikutnya agak keras.
“Aw! Sakit kali!” Denok mengusap lengannya.
“Tapi ini seriusan, Suer! Kata temen-temennya, dia ditemuin di daerah Padjajaran deket tempat lu les itu. Mereka bilang, Langga lagi naksir sama cewek yang les disitu, dan katanya hampir tiap hari, Langga nungguin cewek itu kalo pulang malem naek angkot. Padahal, dia punya motor. Dan arah rumahnya beda banget sama cewek itu, tapi dia tetep mau deketin cewek itu dengan cara kayak jagain dia pulang gitu, so sweet banget, kan?” Rangkaian kalimat yang diucapkan Denok satu persatu terasa seperti cambukan di hatiku.
“Hey? Lu kenapa? Heh! Lu nangis ya???” Denok kini panik. Dia sibuk menyapu air mata yang terus menetes dari kelopak mataku.
“Kenapa dia bisa kayak gitu?” Akhirnya aku buka suara.
“Katanya di hajar preman yang mabuk waktu nungguin cewek yang ditaksirnya selesai les. Hey, lu kenapa sih? Kenapa keliatan se-sedih ini sih? Jangan bilang lu naksir Langga?” Denok keheranan.
“Iya, Nok... Gua naksir sama Langga. Sumpah, Lu tau nggak? Dia itu pernah nganterin gua pulang waktu gua ketiduran di angkot sepulang dari les...” Aku bercerita sembari sesenggukan.
“Lu tau nggak dimana dia sekarang? dia baik-baik aja, nggak?” Aku bertanya dengan mata penuh harap pada Denok.
“Jangan-jangan cewek yang dia suka itu lu, lagi?! Wah... bentar yah Na, gua tanya dulu sama temen-temennya. Lu tunggu sini!” Pinta Denok sambil berlari menuju kerumunan anak-anak STM di luar warung.
Beberapa menit berlalu. Pikiranku berusaha membuang bayangan tentang hal-hal terburuk yang mungkin terjadi pada Langga.
Lalu Denok datang dengan salah satu siswa STM yang tidak kukenal. Yah, aku memang tidak sebegitu gampang berbaur seperti Denok. Satu-satunya anak STM sebelah yang aku kenal, hanya Langga.
“Na, si Krisno mau nganter lu ke rumah sakit tempat Langga dirawat, nih. Tapi, gua nggak bisa ikut. Nanti gua bilang sama bu Lani kalau lu izin sakit. Gimana?” Ujar Denok cepat.
Aku mencoba tersenyum dengan air mata yang masih sedikit mengalir. Aku memeluk Denok segera “Makasih ya, Nok... Lu temen gua yang paling baik!” Ucapku.
Lalu menarik lengan Krisno supaya cepat sampai di rumah sakit. Samar-samar aku mendengar Denok berteriak menyemangatiku. Rasanya seperti aku akan mengikuti kejuaraan Internasional saja. Pikirku geli.
Krisno menyodorkan helm merah menyala padaku ketika kami sampai di parkiran.
“Nggak ada yang lebih kalem, nih?” Dahiku mengernyit.
“Nggak ada, pake aja yang itu. Daripada ketangkep polisi?” Sahut Krisno.
Aku menghela nafas panjang. Yasudahlah...

Sekitar setengah jam aku merasa seperti naik metromini yang full angin. Fyuh... akhirnya sampai juga.
“Lu tuh bawa motor kayak bawa metromini di Jakarta tau nggak?! Selap-selip aja...” Aku mengomel di parkiran rumah sakit. Tapi, yang diomeli cuma nyengir aja. Sial.
“Udah, ayo gua anter ke kamarnya Langga.” Ujarnya.
Kami melewati beberapa lorong dan naik ke lantai dua. Sesampainya di lantai dua, hanya ada dua kamar. Dua-duanya ruang ICU. Hanya ada satu kamar yang dipenuhi orang. Jadi, pasti itu kamarnya Langga.
Aku berjalan pelan mendekati sepasang orang tua yang tengah duduk sambil bertasbih.
“Om, tante...” Krisno menyalami mereka, diikuti aku yang menyalami sembari tersenyum simpul.
“Gimana keadaan Langga?” Tanya Krisno mewakili pertanyaan di hatiku.
“Alhamdulillah, udah lebih baik. Baru pagi ini dia sadar, sore nanti dia udah bisa dipindahin ke ruang perawatan.” Ibunya menjawab dengan tenang.
Alhamdulillah...
“Oh iya, tante.. ini...” Krisno menunjukku, lalu dengan konyolnya bertanya. “Siapa nama lu? Tadi Denok nggak jelas ngasih taunya.”
Alisku mengkerut. Dasar cowok telmi.
“Nama saya Elina, tante...” Aku mengangguk kaku.
“Oh.. Iya, Elina.. dia mau jenguk Langga, tante. Boleh nggak, yah?” Krisno berkoar lagi.
“Oh... iya, saya ibunya Langga. Silahkan saja kalau mau jenguk. Di dalem juga ada beberapa temennya yang lagi jenguk.” Ujar Ibunya Langga.
Akhirnya aku dan Krisno beranjak ke ruangan tempat Langga dirawat. Sebentar saja telingaku sudah mendengar suara alat-alat rumah sakit terutama alat pengontrol jantung yang khas dengan ‘tit’-nya.
Diluar dugaan, ternyata ada dua orang perempuan yang sedang menjenguk Langga. Ketika Krisno datang, dua perempuan itu sangat akrab dengannya. Aku juga mendengar suara Langga yang lemah menyalami kedatangan teman sekolahnya itu.
“Hei, sob... bukannya lu harusnya sekolah?” Tanya Langga.
“Biasalah... bosen, hehe. Oh iya, gua bawa cewek yang mau jenguk lu nih. Dari SMA sebelah.” Ujar Krisno. Aku yang sedari tadi berdiri di balik gorden hijau, akhirnya memberanikan diri untuk masuk.
Mataku celingukan melawan sorotan mata kedua perempuan yang sudah ada di dalam ruangan. Siapapun mereka, tatapan mereka bener-bener ganggu banget. Pikirku.
“Elina?”
Aku menatap Langga yang memanggil namaku. Lalu tersenyum kaku.
“Lu udah kenal, sob?” Krisno mulai kepo.
“Ehm... Reta, Erna dan lu sob.. bisa tolong tinggalin gua sama dia dulu?” Ujar Langga, membuat aku bingung. Mau ngapain dia? Pikiranku lagi-lagi bertanya.
Krisno dengan mudahnya diusir keluar. Tapi, dua perempuan yang bernama Reta dan Erna itu keluar dengan wajah masam padaku. Pasti mereka naksir Langga. Fyuh.
“Ayo, duduk..” Langga menunjuk kursi yang ada di sebelah ranjangnya.
Pelan tapi pasti, aku duduk di sebelah ranjangnya. Rasanya aku ingin sekali menggenggam tangannya yang dibelit infus.
“Kamu kok bisa ada disini? Kamu kenal aku?” Langga langsung to the point.
Aku mengangguk pelan. “Aku... aku mau ngucapin makasih karena kamu udah nganter aku pulang waktu itu.” Kataku sambil menunduk.
“Kamu nggak takut salah orang bilang makasih sama aku?”
Seketika aku mengangkat kepala. “Kamu Langga, kan?” Tanyaku polos.
Lalu Langga tertawa lemah dan membuat bibirku mengerucut.
“Oke, oke.. aku bercanda. Iya, aku Langga. Aku Langga yang beberapa minggu ini terus ngikutin kamu, dan aku Langga yang nganterin kamu waktu kamu ketiduran di angkot. Oh iya, demam kamu udah sembuh?” Dia menjelaskan dan bertanya dengan lembut.
Air mataku perlahan mengalir.
Beberapa kali aku menyeka air mataku yang tidak mau berhenti terjatuh.
“Elina? Kamu kenapa?”
“Langga... kenapa sih kamu nggak kayak cowok-cowok lain yang PDKT sama ceweknya dengan cara yang wajar? Kenapa kamu harus nungguin aku pulang bimbel cuma demi seangkot sama aku, padahal kamu punya motor buat anter aku pulang, kalau memang kamu mau anter aku pulang? Kalau kamu nggak punya hobi nungguin aku malem-malem, pasti sekarang kamu nggak akan masuk rumah sakit kayak gini, kan?” Kataku dikuasai emosi. Lalu cepat-cepat menutup wajahku dengan tangan.
Rasanya ingin marah, tapi perasaanku masih diliputi rasa ragu karena aku belum punya hak apa-apa untuk memarahinya. Lagipula, aku marah karena aku khawatir dan merasa bersalah atas kejadian yang menimpanya saat ini, kan? Hatiku berusaha membela diri.
“Hey...” Langga menyentuh tanganku dan memaksanya terbuka dengan halus.
“Aku nggak mau disamain sama cowok lain yang pernah kamu temui. Biarin aku menyukai kamu dengan caraku sendiri.” Katanya halus.
“Tapi Langga... gara-gara...” Aku mencoba berargumen lagi sebelum kedua tangan langga mendorong kedua tanganku untuk tutup mulut.
“Tapi Elina... gara-gara aku masuk rumah sakit, sekarang aku jadi tau kalau ternyata kamu juga peduli sama aku, kan? Itu berarti, perjuangan aku beberapa minggu ini nggak sia-sia, karena aku berhasil bikin kamu tertarik seperti aku tertarik sama kamu.” Langga mengecup kedua tanganku sembari tersenyum.
“Aku sayang sama kamu, Elina... Kalau kamu mau jadi pacar aku, aku janji setelah ini, aku bakal nganterin kamu pulang naik motor aku, bukan naik angkot lagi. Gimana?”
Aku tertawa lemah mendengar candaan Langga. Ternyata dia bukan hanya laki-laki yang so sweet, tapi juga hangat dan lucu. Senyumku mampu mengembang lebar karenanya.
“Jadi, kamu mau jadi pacar aku, Elina?” Langga kembali bertanya dengan matanya berusaha mencari mataku yang dibawa menunduk oleh kepalaku.
“Hmm.....” Akhirnya aku menatap matanya dan mengangguk dengan pasti.
“Iya, aku mau...” Jawabku mantap dibarengi senyum Langga yang lebar.

***

Komentar

  1. amal gue hampir nangis baca ini hahahaha awalnya biasanya aja, kan pajang tuh pembukaannya...tp pas udah masuk klimaks, aaah! romantis banget! dan yg gue suka, ini ga kayak cerpen di novel teenlit. sederhana banget tp ngena! ini nih baru perjuangan seorang cowok! aduh maaf ya gue komennya lebay haha

    BalasHapus
  2. hohoho terima kasih lindaaaaa :D lu pembaca setia blog gue setelah Gigih deh hahaha pengen banget gak sih punya cowok so sweet kaya gini? :"D
    enggak, itu bukan lebay kok, tapi ekspresif! I like it haha

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Secarik Rasa...

Secarik rasa... Untuk yang tercinta... Sebut aku Rasa. Aku adalah gadis mungil nan ceria yang kini sedang bergundah gulana. Hampir beberapa malam yang aku lewati di atas kasur empuk dan nyaman ini, aku lewati dengan diam dan merenung. Hei kamu, yang berada jauh di negeri antah berantah sana. Yang tidak pernah aku tahu bagaimana rupa negeri itu dan bagaimana rupamu ketika kamu berada disana. Hanya ada kamu di pikiran ini ketika malam tiba. Hei kamu, yang aku sebut segalanya bagiku. Setiap malam selalu jadi puncaknya rasa pilu karena kamu. Karena kamu yang aku tunggu. Adalah rasa pilu yang ada, ketika aku sadar bahwa kamu, kekasihku yang sangat menyayangiku dan aku sayangi, namun tidak mampu saling berbagi lagi seperti dulu sebelum kamu pergi. “Arrgggh!” Aku meremas kertas yang awalnya akan kujadikan media membuat puisi. Aku melempar buntalan kertas itu ke tempat sampah di pojokan kamar dengan emosi yang tak terbendung.      ...

Be Creative at Bogor Kreatif!

Hey bloggers! Pernah nggak sih kepikiran buat milih souvenir acara pernikahan atau acara lainnya dengan menggunakan barang yang berasal dari bahan daur ulang???? Nah, kalau belum kepikiran atau bahkan belum tahu ternyata ada souvenir acara yang berasal dari bahan daur ulang, saya punya referensinya nih! Simak yaaaaa ;) Bogor (15/3) Jumat kemarin, saya dan beberapa rekan seperjuangan sebagai mahasiswa yaitu Sulistiya Permatasari, Febby Putri dan Irma Rizki Nauli mengunjungi sebuah rumah usaha kreatif yang berada di daerah Jalan Taman Pelajar No.4 Cimanggu, Bogor. Usaha kreatif ini bernama “BOGOR KREATIF”. Bogor Kreatif ini merupakan sebuah art galeri yang dipelopori oleh seseorang yang bernama Bapak Nurdin (Bimbim). Tahun 2000 lalu, beliau yang notabene-nya adalah warga Bandung memutuskan untuk pergi ke Bogor. Sesampainya di Bogor, Pak Bimbim melihat begitu banyaknya limbah seperti limbah kantor yang sebenarnya bisa didaur ulang dan akan menjadi barang yang lebih ber...

HARLEM SHAKE - 5 senti :D

Yeeeeaaahaaa! hahaha agak bingung juga sih kenapa gue harus ketawa.. Well , jadi ceritanya beberapa minggu yang lalu, gue dan beberapa sahabat kuliah gue yaitu Sulistiya Permata Sari, Ranti Astria alias ijau, Siti Ratna Juwita alias victoria *ups, Hani Basyasyi alias Sasyi, terus ada Rizka NQ alias kokom, sama Febby Putri dan Wahyuni Anissa Rahma alias amoy yang iseng-iseng nggak ada kerjaan dan akhirnya bikin video Harlem Shake! secara, joget-joget tanpa aturan itu lagi nge-trend banget sekarang. hahaha. video ini dibuat di kosan sahabat gue yang kita kasih nama kosan 5 senti karena penghuni kosan ini ada 5 orang dan saling bersahabat :) Okay, sekali lagi gue tekankan ini cuma iseng-iseng belaka buat lucu-lucuan aja. sama sekali nggak ada niat buat jadi artis youtube loh hahaha btw, thanks to Rizki Nur Fauziah yang udah baik banget mau ngeditin video konyol kita *bighug* Allright , ini dia link videonya :D enjooooooy! HARLEM SHAKE - 5 Senti