Ini adalah sepenggal
kisah tentang cinta.
Cinta yang terluka dan
sempat menyisakan sesal di dada.
Anak laki-laki itu
bernama Langga. Belakangan aku tahu dia anak SMA swasta untuk kalangan menengah
ke bawah yang ada di kawasan sekolahku.
Aku tahu namanya
Langga, karena nama itu terpampang jelas di bagian kiri seragamnya ketika dia
lupa memakai jaket kesayangannya. Jaket biru tua yang hampir lusuh dan hampir
setiap hari dia pakai.
Kini aku sudah kelas 3.
Sudah masa-masanya mendekati Ujian Nasional yang katanya momok menakutkan bagi
mayoritas siswa kelas 3. Dan karena momok itulah, tenagaku terkuras habis
setiap harinya.
Aku mengikuti bimbel di
lebih dari satu tempat. Pertama, bimbel di sekolahku sendiri dari siang sampai
sore, dan kedua bimbel di kawasan Padjajaran pada hari Selasa, Kamis dan Sabtu
dari pukul tujuh sampai sembilan malam. Sungguh melelahkan tubuh dan pikiran,
bukan? Phew.
Tapi karena bimbel
inilah, aku punya sesal dalam dada.
Malam itu aku baru saja
selesai dari tempat bimbelku di kawasan Padjajaran dan berniat untuk pulang.
Dia, Langga, entah sejak kapan berdiri di parkiran depan tempat bimbelku berada
dan menatapku tanpa berkedip. Karena aku tidak mengenalnya, tentu saja aku
mengacuhkannya. Aku menuruni beberapa anak tangga dengan hati-hati karena efek
malam yang gelap. Cukup lama aku berdiri menunggu angkutan umum lewat.
Jujur saja, aku bukan
berasal dari keluarga yang dibilang kelewat kaya, tapi juga tidak sangat
sengsara. Aku hidup dengan pas-pas-an, pas mau ke salon, ya aku ke salon, pas
mau belanja juga aku tinggal belanja. Yah, pokonya uang saku milikku masih pas
untuk itu semua.
Tapi, dengan pola hidup
yang pas-pas-an itu, aku malah lebih suka pulang bimbel diantar angkutan umum
daripada menunggu Taxi seperti pesan mama. Entahlah, aku suka saja duduk dalam
angkutan umum bersama orang-orang yang baru pulang kantor atau baru pulang
bimbel seperti aku ini dan memperhatikan wajah-wajah letih mereka. Aku juga
suka menatap pohon-pohon besar yang seperti bercahaya akibat pantulan dari
lampu-lampu di jalanan dan seperti melambaikan rantingnya pelan-pelan ketika
terlewati oleh angkutan yang aku naiki.
Mereka seperti
tersenyum padaku. Mengingatkan aku untuk tersenyum, mengingatkan aku bahwa
mereka saja bisa bertahan berdiri tegar di tengah jalanan yang keras dan
melaksanakan kewajiban mereka untuk mengganti karbon dioksida menjadi oksigen
tanpa menjadikan itu beban sekalipun karbon dioksida yang harus mereka ganti
amat sangat banyak dan tak pernah berhenti.
Lalu kenapa aku malah mengeluh hanya karena jadwal bimbel
yang padat dan adanya Ujian Nasional? Toh itu sudah kewajibanku. Begitulah caraku
membangkitkan semangat. Hanya dengan duduk di angkutan yang berisikan
orang-orang berwajah letih, aku seperti punya teman seperjuangan. Dan hanya
dengan melihat belasan pohon besar yang melambai, aku seperti punya semangat
juang.
Yah, itulah aku.
Selesai melamun, aku
dikejutkan dengan suara klakson angkutan umum yang datang. Segera saja aku naik
dan duduk di belakang bangku supir. Dibarengi anak laki-laki bernama Langga
itu, yang duduk di sebelahku. Sampai aku turun dan tiba di rumah.
...
Kamis malam.
Lagi-lagi aku melihat
dia, Langga naik angkutan yang sama denganku. Hanya, kali ini dia naik beberapa
meter setelah aku naik. Dan dia duduk di jajaran bangku di hadapanku karena di
sebelahku kini ada yang menempati. Aku menatap Langga sesaat, dan dia
tersenyum. Alisku seketika terangkat, lalu aku memalingkan muka menatap
pohon-pohon besarku lagi.
...
Sabtu malam.
Anak laki-laki bernama
Langga itu kini duduk di sebelahku. Aku di pojok, dan dia di sebelah kananku.
Wangi parfumnya samar-samar menelusup di sela-sela hidungku. Yah, wangi yang
maskulin, dan lumayan mengguggah. Aku perhatikan, dia selalu naik angkutan yang
sama denganku setiap aku pulang bimbel. Dan aku juga perhatikan, dia selalu
memakai jaket biru tua dengan corak garis putih di sepanjang lengannya dipadu
celana SMA dan masih membawa tas sekolah setiap aku melihatnya satu angkutan
denganku. Apa dia satu tempat bimbel
denganku yah?
...
Ini hari Senin, dan hari
ini aku baru tahu kalau ternyata, anak laki-laki yang belakangan sering satu
angkutan denganku sepulang bimbel itu adalah salah satu siswa dari SMA
tetangga. SMA khusus untuk anak laki-laki alias STM yang sebenarnya cukup
berprestasi. Dan belakangan juga aku tahu namanya Langga dari salah seorang
temanku yang disebut-sebut ‘tukang gosip’ di sekolah.
“Hey, Langga ngeliatin
lu mulu tuh!” Sikut si ‘tukang gosip’ padaku.
“Langga? Siapa?”
Tanyaku singkat, karena aku sedang asyik menikmati soto daging yang masih
hangat.
“Itu... cowok yang pake
jaket biru. Tuh, yang cakep!” Ujar ‘si tukang gosip’ makin menyikutku. Dan
mulai mengganggu kenikmatan makan siangku.
Aku tak
menghiraukannya. Perutku sedang kelewat lapar sekarang.
“Hey! Serius ih, Langga
senyum cool banget sama lu! Ayo liat dulu napa?!” Ujar Denok -‘si tukang
gosip’- agak mengguncang meja.
“Heh! Lu tuh yah, nggak
liat orang lagi makan apa ya?! Ganggu aja sih!” Aku akhirnya naik darah juga.
Denok –‘si tukang gosip’- sedikit terperanjat karena suaraku yang agak
meninggi. Lalu dia menutup mulutku dengan tangannya.
“Iya iya, biasa aja
kali. Gua kan cuma ngasih tau aja. Dasar, makan mulu tapi nggak gede-gede.”
Denok mencibir. Dan aku mendengus.
Sekilas mataku melihat
ke arah sekumpulan laki-laki yang duduk di seberang mejaku. Dan aku mendapati
senyuman maskulin yang dibilang Denok dari bibir anak laki-laki yang
menggunakan jaket biru yang aku kenal itu.
Oh, ternyata namanya benar Langga.
...
Selasa malam. Dan
hujan.
Aku mematung di depan
gedung bimbel. Aku terpaksa harus menunggu hujan reda karena aku tidak membawa
payung. Sial.
Hanya beberapa menit
mematung, tiba-tiba ada seorang anak kecil dengan ojek payung menghampiriku dan
menawarkan jasanya.
“Payung teh?” Katanya.
Aneh. Seingatku, di
daerah sini tidak ada ojek payung yang suka berkeliaran. Tapi karena aku memang
butuh dan kebetulan dia menawarkan padaku, bukan pada konsumen lain, langsung
saja aku menerimanya.
“Sampe naik angkot
yah..” Kataku.
Lalu kami berdua
mematung di bawah pohon besar depan tempat bimbelku.
Sepuluh menit kemudian,
aku sudah naik angkot dan bersiap membayar ‘bocah penjajak payung’ itu sebelum
akhirnya dia lari entah kemana. Iya, dia tidak mau aku bayar. Dan aku tidak mau
ambil pusing soal itu, mungkin memang sudah rejekiku.
Selang beberapa meter.
Dia, Langga, naik ke angkutanku dan duduk di sebelah kananku lagi. Celananya
basah dan dingin. Setelah beberapa detik menaiki angkutan, dia membuka jaket
kesayangannya dan menyeruakkan wangi khasnya yang cowok abis.
Tumben sekali malam itu
macet. Dan aku sudah sangat ingin bertemu kasurku yang nyaman karena kelelahan
akut. Mataku sudah mulai terkatup-katup, dan kepalaku sudah mulai kehilangan
keseimbangannya.
Aduh, aku amat mengantuk.
Aku mencoba
menenggelamkan mukaku di dalam kedua tangan yang tertopang oleh lutut, semoga
bisa menahan kantuk. Namun beberapa detik kemudian, kepalaku terasa terjatuh
dari atas tebing dibarengi rasa kaget di dalam hati. Aku mengerjap.
Satu menit berusaha
terjaga, akhirnya aku tak merasakan apa-apa lagi. Gelap. Sebentar aku merasakan
kepalaku jatuh di atas sesuatu yang kokoh namun nyaman karena dorongan dari
sebelah kiri kepalaku. Dan aku juga merasakan sesuatu yang hangat menyelimuti
ragaku malam itu.
...
Keesokan harinya, aku
membuka mata dan mendapati wajah mama yang lembut tengah duduk di sampingku.
“Ma?” Aku memanggil
pelan.
“Eh, kamu udah
bangun... sini, mama pegang jidat kamu, masih panas nggak?”
Lalu mama menggerayangi
wajah dan leherku.
“Belum turun..” Mama
memasang wajah sedih.
“Ini jam berapa, ma?”
Aku bertanya lagi.
“Jam 8 mungkin.
Kenapa?”
“Loh? Aku nggak
sekolah?”
“Gimana mau sekolah,
sayang? Kamu itu lagi demam, semaleman aja kamu ngigau yang aneh-aneh. Langga
lah, payung lah.. Mama udah minta izin kok sama sekolah kamu.”
Mendengar perkataan
mama, aku tiba-tiba teringat.
“Ma? Yang bawa aku
pulang siapa semalem?”
Mama melirikku. “Cowok,
pakai jaket biru tua. Dia bilang kamu sakit, jadi dia anter kamu pulang sehabis
bimbel. Anaknya cakep, wangi juga. Siapa namanya, ya?” Mama mulai
mengingat-ingat.
Dahiku ikut berkerut.
“Langga?” Tanyaku agak ragu.
Mama menjetikan jari,
“Ah iya, Langga kalau nggak salah.”
Berbarengan dengan
respon mama, aku makin mengerutkan dahi ditambah bibir yang mulai menganga
sekarang.
Langga nggak kenal gua tapi kenapa dia baik sama gua?
Bahkan dia tau rumah gua? Pikirku keheranan.
...
Kamis malam.
Aku mendapati Langga
lagi di sampingku. Sudah dua minggu lebih Langga bertingkah seperti ini. Dia
selalu menaiki angkutan yang sama denganku, bahkan sering duduk dekat sekali
denganku tapi dia tidak pernah bertanya atau bahkan menyapaku sekalipun.
Dia hanya tersenyum. Manis
dan mempesona.
...
Sabtu malam.
Aku tidak menemukan
Langga di angkutanku. Tumben sekali dia
absen? Aku pikir dia tidak akan absen dari menaiki angkutan yang sama denganku
ini? Pikirku. Hari ini aku memang keluar kelas lebih lama karena asyik
berbincang tentang beasiswa ke luar negeri bersama guru bahasa Inggrisku.
Beberapa waktu berlalu.
Entah kenapa rasanya ada yang kurang dari angkutan umum ini. Tidak ada Langga,
angkutan ini jadi tidak nyaman. Entah kenapa rasanya jadi tidak aman. Beberapa
kali aku melihat keluar jalan, berharap mendapatkan rasa nyaman dari
pohon-pohon besar yang agaknya terlupakan karena kehadiran Langga di angkutanku
beberapa waktu kemarin. Namun, hasilnya nihil. Aku malah merasakan rindu pada
Langga.
Sesampainya di rumah,
aku segera mandi, makan lalu bersiap tidur. Tapi, tidak seperti biasanya, aku
malah sulit tertidur, padahal badanku terasa sangat letih. Aneh.
Aku putuskan membaca
sebuah buku bacaan. Tapi yang ada di pikiranku hanyalah Langga. Jadilah hanya
Langga yang terbayang. Pokoknya, Senin
nanti gua harus bisa ngobrol sama Langga. Hatiku memutuskan saat mataku
mulai terpejam.
Aku melihat Langga, di trotoar tempat biasanya dia
memberhentikan angkutan yang aku duduki. Tersenyum lemah saat aku melihatnya
dari balik kaca angkutan yang bening. Tapi dia tidak naik, dia diam saja dan
hanya tersenyum lemah. Jaket biru tua nya terlihat seperti basah padahal hari
tidak hujan. Aku panik dan berusaha berteriak untuk meminta angkutan ini
berhenti tapi suaraku malah tercekat. Angkutanku melaju secepat trem dan
meninggalkan siluet Langga yang mulai menghilang.
Aku membuka mata dengan
cepat. Keringat mengucur dari pelipis dan beberapa bagian tubuhku. Syukurlah,
hanya mimpi.
...
Senin pagi.
Aku mengajak Denok
makan soto daging lagi di tempat langganan kami.
“Mau cabut?” Tanya
Denok.
“Satu pelajaran aja.
Mau liat anak STM nih. Hehe.” Kataku ringan.
“Ooh,, mau cuci mata?
Tumben...” Denok nyinyir.
Aku menikmati soto
daging dengan mata yang awas ke arah STM di sebelah sekolahku. Berharap bisa
melihat sosok Langga yang aku cari, kalau tidak bertemu hari ini pun, aku yakin
pasti akan menemukan dia besok malam sepulang bimbel.
“Cari siapa sih?” Denok
menyadari mataku yang jelalatan.
Aku mendelik. “Nggak,
cuci mata aja.” Kataku singkat.
“Eh, lu tau nggak?”
Denok mulai berkoar.
“Apa? Gosip apa lagi?”
Aku agak ketus.
Denok mengernyit.
“Yeeee, ini bukan gosip. Serius. Gua dapet kabar dari anak-anak STM sebelah
waktu lagi kongkow kemaren di
mancur.”
“Apaan?” Aku menjawab
malas.
“Tapi lu jangan sedih
yah, harus kuat.” Denok menepuk punggungku pelan.
Aku mengernyitkan alis.
“Apaan sih lu? Cepetan ngomong deh, lamaaa.”
“Lu masih inget nggak
cowok yang kata gua ngeliatin lu waktu makan soto Senin kemaren? Yang namanya
Langga anak STM sebelah itu?”
Mendengar kata Langga,
aku segera sigap dan antusias. Aku membalikkan tubuhku menghadap Denok.
“Iya, inget. Kenapa?
Eh, lu kenal Langga yah? Dia kayak apa sih orangnya?” Aku mulai kepo.
“Yee, dengerin dulu! Lu
tau nggak? Kemaren, Langga ditemuin berdarah-darah sama polisi..” Seketika
ucapan Denok seperti parang yang pas sekali menusuk jantungku pagi itu. Aku
menganga.
“Hah? Jangan bercanda,
Nok! Nggak lucu!” Aku menyikutnya agak keras.
“Aw! Sakit kali!” Denok
mengusap lengannya.
“Tapi ini seriusan,
Suer! Kata temen-temennya, dia ditemuin di daerah Padjajaran deket tempat lu
les itu. Mereka bilang, Langga lagi naksir sama cewek yang les disitu, dan
katanya hampir tiap hari, Langga nungguin cewek itu kalo pulang malem naek
angkot. Padahal, dia punya motor. Dan arah rumahnya beda banget sama cewek itu,
tapi dia tetep mau deketin cewek itu dengan cara kayak jagain dia pulang gitu, so sweet banget, kan?” Rangkaian kalimat
yang diucapkan Denok satu persatu terasa seperti cambukan di hatiku.
“Hey? Lu kenapa? Heh! Lu
nangis ya???” Denok kini panik. Dia sibuk menyapu air mata yang terus menetes
dari kelopak mataku.
“Kenapa dia bisa kayak
gitu?” Akhirnya aku buka suara.
“Katanya di hajar
preman yang mabuk waktu nungguin cewek yang ditaksirnya selesai les. Hey, lu
kenapa sih? Kenapa keliatan se-sedih ini sih? Jangan bilang lu naksir Langga?”
Denok keheranan.
“Iya, Nok... Gua naksir
sama Langga. Sumpah, Lu tau nggak? Dia itu pernah nganterin gua pulang waktu
gua ketiduran di angkot sepulang dari les...” Aku bercerita sembari
sesenggukan.
“Lu tau nggak dimana
dia sekarang? dia baik-baik aja, nggak?” Aku bertanya dengan mata penuh harap
pada Denok.
“Jangan-jangan cewek
yang dia suka itu lu, lagi?! Wah... bentar yah Na, gua tanya dulu sama
temen-temennya. Lu tunggu sini!” Pinta Denok sambil berlari menuju kerumunan
anak-anak STM di luar warung.
Beberapa menit berlalu.
Pikiranku berusaha membuang bayangan tentang hal-hal terburuk yang mungkin
terjadi pada Langga.
Lalu Denok datang
dengan salah satu siswa STM yang tidak kukenal. Yah, aku memang tidak sebegitu
gampang berbaur seperti Denok. Satu-satunya anak STM sebelah yang aku kenal,
hanya Langga.
“Na, si Krisno mau
nganter lu ke rumah sakit tempat Langga dirawat, nih. Tapi, gua nggak bisa
ikut. Nanti gua bilang sama bu Lani kalau lu izin sakit. Gimana?” Ujar Denok cepat.
Aku mencoba tersenyum
dengan air mata yang masih sedikit mengalir. Aku memeluk Denok segera “Makasih
ya, Nok... Lu temen gua yang paling baik!” Ucapku.
Lalu menarik lengan
Krisno supaya cepat sampai di rumah sakit. Samar-samar aku mendengar Denok
berteriak menyemangatiku. Rasanya seperti
aku akan mengikuti kejuaraan Internasional saja. Pikirku geli.
Krisno menyodorkan helm
merah menyala padaku ketika kami sampai di parkiran.
“Nggak ada yang lebih
kalem, nih?” Dahiku mengernyit.
“Nggak ada, pake aja
yang itu. Daripada ketangkep polisi?” Sahut Krisno.
Aku menghela nafas
panjang. Yasudahlah...
Sekitar setengah jam
aku merasa seperti naik metromini yang full angin. Fyuh... akhirnya sampai juga.
“Lu tuh bawa motor
kayak bawa metromini di Jakarta tau nggak?! Selap-selip aja...” Aku mengomel di
parkiran rumah sakit. Tapi, yang diomeli cuma nyengir aja. Sial.
“Udah, ayo gua anter ke
kamarnya Langga.” Ujarnya.
Kami melewati beberapa
lorong dan naik ke lantai dua. Sesampainya di lantai dua, hanya ada dua kamar.
Dua-duanya ruang ICU. Hanya ada satu kamar yang dipenuhi orang. Jadi, pasti itu
kamarnya Langga.
Aku berjalan pelan
mendekati sepasang orang tua yang tengah duduk sambil bertasbih.
“Om, tante...” Krisno
menyalami mereka, diikuti aku yang menyalami sembari tersenyum simpul.
“Gimana keadaan
Langga?” Tanya Krisno mewakili pertanyaan di hatiku.
“Alhamdulillah, udah
lebih baik. Baru pagi ini dia sadar, sore nanti dia udah bisa dipindahin ke
ruang perawatan.” Ibunya menjawab dengan tenang.
Alhamdulillah...
“Oh iya, tante..
ini...” Krisno menunjukku, lalu dengan konyolnya bertanya. “Siapa nama lu? Tadi
Denok nggak jelas ngasih taunya.”
Alisku mengkerut. Dasar cowok telmi.
“Nama saya Elina,
tante...” Aku mengangguk kaku.
“Oh.. Iya, Elina.. dia
mau jenguk Langga, tante. Boleh nggak, yah?” Krisno berkoar lagi.
“Oh... iya, saya ibunya
Langga. Silahkan saja kalau mau jenguk. Di dalem juga ada beberapa temennya
yang lagi jenguk.” Ujar Ibunya Langga.
Akhirnya aku dan Krisno
beranjak ke ruangan tempat Langga dirawat. Sebentar saja telingaku sudah
mendengar suara alat-alat rumah sakit terutama alat pengontrol jantung yang
khas dengan ‘tit’-nya.
Diluar dugaan, ternyata
ada dua orang perempuan yang sedang menjenguk Langga. Ketika Krisno datang, dua
perempuan itu sangat akrab dengannya. Aku juga mendengar suara Langga yang lemah
menyalami kedatangan teman sekolahnya itu.
“Hei, sob... bukannya
lu harusnya sekolah?” Tanya Langga.
“Biasalah... bosen,
hehe. Oh iya, gua bawa cewek yang mau jenguk lu nih. Dari SMA sebelah.” Ujar
Krisno. Aku yang sedari tadi berdiri di balik gorden hijau, akhirnya
memberanikan diri untuk masuk.
Mataku celingukan
melawan sorotan mata kedua perempuan yang sudah ada di dalam ruangan. Siapapun mereka, tatapan mereka bener-bener
ganggu banget. Pikirku.
“Elina?”
Aku menatap Langga yang
memanggil namaku. Lalu tersenyum kaku.
“Lu udah kenal, sob?”
Krisno mulai kepo.
“Ehm... Reta, Erna dan
lu sob.. bisa tolong tinggalin gua sama dia dulu?” Ujar Langga, membuat aku
bingung. Mau ngapain dia? Pikiranku
lagi-lagi bertanya.
Krisno dengan mudahnya
diusir keluar. Tapi, dua perempuan yang bernama Reta dan Erna itu keluar dengan
wajah masam padaku. Pasti mereka naksir Langga. Fyuh.
“Ayo, duduk..” Langga
menunjuk kursi yang ada di sebelah ranjangnya.
Pelan tapi pasti, aku
duduk di sebelah ranjangnya. Rasanya aku ingin sekali menggenggam tangannya
yang dibelit infus.
“Kamu kok bisa ada
disini? Kamu kenal aku?” Langga langsung to
the point.
Aku mengangguk pelan.
“Aku... aku mau ngucapin makasih karena kamu udah nganter aku pulang waktu
itu.” Kataku sambil menunduk.
“Kamu nggak takut salah
orang bilang makasih sama aku?”
Seketika aku mengangkat
kepala. “Kamu Langga, kan?” Tanyaku polos.
Lalu Langga tertawa
lemah dan membuat bibirku mengerucut.
“Oke, oke.. aku
bercanda. Iya, aku Langga. Aku Langga yang beberapa minggu ini terus ngikutin
kamu, dan aku Langga yang nganterin kamu waktu kamu ketiduran di angkot. Oh
iya, demam kamu udah sembuh?” Dia menjelaskan dan bertanya dengan lembut.
Air mataku perlahan
mengalir.
Beberapa kali aku
menyeka air mataku yang tidak mau berhenti terjatuh.
“Elina? Kamu kenapa?”
“Langga... kenapa sih
kamu nggak kayak cowok-cowok lain yang PDKT sama ceweknya dengan cara yang
wajar? Kenapa kamu harus nungguin aku pulang bimbel cuma demi seangkot sama
aku, padahal kamu punya motor buat anter aku pulang, kalau memang kamu mau
anter aku pulang? Kalau kamu nggak punya hobi nungguin aku malem-malem, pasti
sekarang kamu nggak akan masuk rumah sakit kayak gini, kan?” Kataku dikuasai
emosi. Lalu cepat-cepat menutup wajahku dengan tangan.
Rasanya ingin marah, tapi
perasaanku masih diliputi rasa ragu karena aku belum punya hak apa-apa untuk
memarahinya. Lagipula, aku marah karena
aku khawatir dan merasa bersalah atas kejadian yang menimpanya saat ini, kan?
Hatiku berusaha membela diri.
“Hey...” Langga
menyentuh tanganku dan memaksanya terbuka dengan halus.
“Aku nggak mau disamain
sama cowok lain yang pernah kamu temui. Biarin aku menyukai kamu dengan caraku
sendiri.” Katanya halus.
“Tapi Langga...
gara-gara...” Aku mencoba berargumen lagi sebelum kedua tangan langga mendorong
kedua tanganku untuk tutup mulut.
“Tapi Elina...
gara-gara aku masuk rumah sakit, sekarang aku jadi tau kalau ternyata kamu juga
peduli sama aku, kan? Itu berarti, perjuangan aku beberapa minggu ini nggak
sia-sia, karena aku berhasil bikin kamu tertarik seperti aku tertarik sama
kamu.” Langga mengecup kedua tanganku sembari tersenyum.
“Aku sayang sama kamu,
Elina... Kalau kamu mau jadi pacar aku, aku janji setelah ini, aku bakal
nganterin kamu pulang naik motor aku, bukan naik angkot lagi. Gimana?”
Aku tertawa lemah
mendengar candaan Langga. Ternyata dia bukan hanya laki-laki yang so sweet, tapi juga hangat dan lucu.
Senyumku mampu mengembang lebar karenanya.
“Jadi, kamu mau jadi
pacar aku, Elina?” Langga kembali bertanya dengan matanya berusaha mencari
mataku yang dibawa menunduk oleh kepalaku.
“Hmm.....” Akhirnya aku
menatap matanya dan mengangguk dengan pasti.
“Iya, aku mau...”
Jawabku mantap dibarengi senyum Langga yang lebar.
***
amal gue hampir nangis baca ini hahahaha awalnya biasanya aja, kan pajang tuh pembukaannya...tp pas udah masuk klimaks, aaah! romantis banget! dan yg gue suka, ini ga kayak cerpen di novel teenlit. sederhana banget tp ngena! ini nih baru perjuangan seorang cowok! aduh maaf ya gue komennya lebay haha
BalasHapushohoho terima kasih lindaaaaa :D lu pembaca setia blog gue setelah Gigih deh hahaha pengen banget gak sih punya cowok so sweet kaya gini? :"D
BalasHapusenggak, itu bukan lebay kok, tapi ekspresif! I like it haha