Aku berjalan cepat mengejar bis
yang setiap harinya menuntutku untuk lebih gesit dari hari kemarin. Kaki-kaki
kecilku melompati genangan demi genangan air sisa hujan semalam. Aku, dengan
setelan serba gelap, seragam yang dibalut cardigan
hitam, rok abu-abu, black flat shoes,
dan tas hitam yang menggantung di pundak tangan kananku.
Kaki-kaki kecilku semakin
lambat berlari. Deru nafasku semakin jelas terdengar, naik-turun, tak
terkendali. Rasanya lelah setiap pagi harus mengejar bis yang sama agar aku
bisa sampai di sekolahku yang sangat-sangat jauh itu dengan biaya yang
sangat-sangat murah.
Jari-jariku melepaskan tiga
lembar uang ribuan ke tangan kenek bis yang terus-menerus menggerakkan
lengannya naik-turun hingga timbul dentingan-dentingan dari koin yang saling
beradu.
Aku mendapat kursi di belakang
sopir bis. Beruntung, pagi ini aku tidak berdiri dengan tangan kanan terangkat,
walaupun, teman sebangku-ku ini juga tidak bisa dikatakan beruntung, bapak
setengah baya yang tambun, dengan bau apek bercampur bau minyak angin. Rasanya
bukan termasuk beruntung. Phew, aku
menghela nafas sembari memejamkan mata. Kupasrahkan tubuhku ke sandaran kursi
butut bis dengan keringat yang bercucuran dari kening dan dua pelipisku,
menghapus sedikit bedak yang aku bubuhkan agar wajahku nampak segar dipandang
mata. Yah, walaupun aku tidak yakin ada yang mau repot-repot memandangku jika
tidak ada perlu.
Aku menutup mata sembari menghela
nafas lagi. Ini konsekuensi yang harus aku jalani sebagai anak dari keluarga
sederhana. Aku harus bersyukur, seperti kata guru Agama-ku sedari kecil.
Percaya, bahwa Tuhan tak pernah tidur, bahwa Tuhan maha adil, maha melihat,
maha mendengar doa-doa hambanya, maha pemberi kebaikan, dan... kata hatiku
tiba-tiba diam. Apa aku mulai terlihat
seperti mengeluh? Kataku pada diri sendiri. Kepalaku sedikit menggeleng,
berusaha membuyarkan pikiran-pikiran negatif.
Kubuka mata dan memandang ke
arah jalan melalui jendela yang berdebu. Sudah
berapa lama bis ini tidak dicuci? Pikirku iseng. Tiba-tiba aku merasakan
ada getaran dari saku kemeja-ku, dua kali bergetar-satu kali diam-dua kali
bergetar-satu kali diam, begitu seterusnya. Itu tanda telepon masuk. Segera
jari-jariku merangsek masuk ke dalam saku, mengambil ponsel jadul yang sudah
menemaniku selama lebih dari dua tahun. Mataku menemukan nama Galen di
layarnya.
Click.
Pagi
Kinan, sudah sampai mana saat ini?
Aku tersenyum simpul.
“Jangan so’ baku deh
ngomongnya. Jijik dengernya.”
Hehehe,
biar berwibawa sedikit, kan. Ayo dijawab, udah nyampe mana? Masih lama?
“Berwibawa? Hahaha. Nggak akan
ada ceritanya lo bisa berwibawa. Baru nyampe perempatan deket tol. Kenapa?
Pasti udah nongkrong di depan sekolah, deh?”
Hahaha,
ada juga Kinan yang nggak akan bisa berwibawa, pecicilan gitu. Oh, oke deh.
I’ll wait.
“Lagian, emang gue bilang
pengen berwibawa? Gue sih sadar diri, Gal.”
Yaudah
iya, iya, Gue yang nggak sadar diri deh. Yaudah, sampai ketemu di gerbang
sekolah yah..
“Hahaha, lo mah pantes kok berwibawa, pembawaan lo kan tenang, nggak kayak gue, hehe. Iya,
udah ya, Hp antik nih, takut ada yang ngincer kalo dikeluarin, hehehe.”
Iya,
Kinan kan nggak mau diem, kayak kutu loncat. Yaudah, see you at gate!
Bip.
Telepon terputus.
Secuil senyuman tersungging
dari sudut bibirku. Tak bisa aku pungkiri, sudah hampir setahun berteman dengan
Galen, bukan tidak mungkin tumbuh tunas kasih sayang yang dimulai dari benih
rasa suka seperti yang aku rasakan sekarang. Hampir setiap pagi Galen
meneleponku menanyakan posisiku berada, dan menungguku di gerbang depan
sekolah. Bagaimana mungkin aku sama sekali tidak punya rasa padanya?
Langkah kaki mungil dari gadis
setinggi 155cm ini terus mendekati gerbang sekolah ber-cat hitam yang sudah
kumal. Mataku menangkap perawakan yang tidak asing selama setahun ini, sosok
Galen, tinggi, berkulit agak kecokelatan, dengan tas ransel yang sama setiap
hari, lalu sepatu kets dan dia selalu berdiri di posisi yang sama hampir setiap
harinya. Menungguku, yang dia bilang pasangan dirinya.
“Selamat pagi nona Kineta Latif.”
Galen menyapaku bak menyapa seorang putri.
“Pagi tuan Galen Kayana Adiputra.”
Jawabku dengan semangat sembari menaikkan lengan meminta high-five. Tak peduli dengan bedak yang sudah luntur entah kemana,
ataupun bau minyak wangi yang hilang berganti bau badan yang bercampur dengan
bau minyak angin. Galen tetap membalas high-five-ku.
Kami masuk ke sekolah bersama.
Merasakan
cinta Galen, adalah salah satu hal yang paling aku syukuri dalam hidup.
...
Kaki-kaki kecilku melangkah
cepat keluar dari sekolah, sebelum ada yang melihat, iya, sebelum Galen
melihatku tepatnya.
Tapi aku tak pernah bisa lari
dari Galen. Dia seperti bagian diriku yang kedua. Dia mengenalku bahkan lebih
dari diriku sendiri.
Aku cepat-cepat menghentikan
langkah kakiku setelah mataku menemukan sosoknya di ujung lorong. Menatapku dengan
tatapan khasnya, teduh dan tajam, sekalipun dia tersenyum. Tubuhku tak bisa
menolak untuk menghampirinya.
“Lunch bareng yuk? Aku punya satu referensi restoran baru loh!” Ujar
Galen sembari tersenyum.
Aku tersenyum simpul, lalu
mengangguk pelan. Segera saja Galen menarik lengan kananku menuju mobil hitam
memukaunya. Itulah Galen.
Sesampainya di restoran sunda
yang asri dan tenang, aku lebih banyak diam. Galen tahu apa yang terjadi
denganku, dan pikiranku.
“Kamu masih belum mau jadi
pacar aku, Nan?” Tanya Galen singkat.
Aku menatap dalam mata Galen. “Aku
masih dalam alasanku yang dulu.”
“Alasan? Kamu bahkan nggak
kasih tahu aku apa alasannya?” Kening Galen mengkerut.
“Aku nggak bisa jadi pacar
kamu, aku nggak bisa berkomitmen dalam keadaan kayak gini.”
Galen menggeleng. “Lagi-lagi, kamu
bahkan nggak mau ngejelasin keadaan apa yang kamu maksud.”
Bukan
Galen, aku bukan nggak mau ngejelasin, tapi aku nggak mampu. Air
mataku mulai menetes. Dibarengi tubuh Galen yang beringsut mendekat dan
merangkulku.
“Maaf, Kinan... aku nggak
bermaksud untuk buat kamu menangis.”
Aku merangsek dari pelukannya. “Nggak
apa-apa kok, justru aku yang harusnya minta maaf, bikin kamu khawatir, yah?”
Tanyaku sembari mencoba tersenyum.
Galen menggeleng sambil
tersenyum lemah. Lalu hening.
Dan kami meneruskan acara lunch dengan alunan gemericik air.
...
Tanganku bergerak indah,
berlenggak-lenggok diantara benang dan jarum, merajut sweater yang aku dedikasikan sebagai tanda cinta untuk Galen,
sebagai bukti bahwa aku menyayangi Galen, hanya Galen.
Sweater dengan
warna dasar abu-abu, dipadu corak zigzag berwarna merah, semerah darah. Aku merajutnya
dengan segenap kekuatan di ruangan ini, ruangan serba putih, dengan tirai hijau
mengelilingiku, bau menusuk yang memualkan, dan banyak sisa kantung darah di
meja sana.
“Ouch!” Terasa perih di telunjukku, segera aku kulum jariku yang
mulai memerah. “Untung nggak berdarah. Gue udah muak sama darah.” Kataku sedikit
menghentak.
Jari-jariku kembali
berkolaborasi dengan jarum dan benang. Tinggal sedikit lagi, mungkin hanya
butuh beberapa hari lagi sebelum bisa dijadikan hadiah.
Aku tersenyum dengan mata berkaca.
...
Tadi
Galen nyariin lu. Gue bilang aja lu alfa.
Ujar pesan singkat yang masuk
ke ponselku yang simcard-nya sudah diganti.
Aku melihat kotak berisi sweater yang sudah jariku rajut selama
beberapa minggu ini, aku tersenyum lemah memandang laki-laki yang akan
mendapatkan sweater itu. Bersamaan dengan
itu, datang seorang perempuan muda namun tidak aku harapkan masuk ke ruanganku.
“Mbak, satu jam lagi kita masuk
ruang operasi yah.” Ujarnya dengan senyum halus yang dibuat-buat. Aku tahu, dia
mencoba membuatku tegar. Aku membalas senyumnya dengan nanar, hanya untuk
menghargai jerih payahnya selama merawatku.
Selepas dia pergi, aku
mengambil secarik kertas dan merogoh-rogoh pulpen di laci meja.
24
Mei 2004
Untuk
Galen Kayana Adiputra...
Sejujurnya,
aku begitu tersiksa dengan perasaan yang amat sangat rapi aku pendam darimu,
hanya karena tidak ingin kamu begitu mencintaiku. Tapi, nyatanya, semakin hari,
kamu semakin mencintaiku, seperti aku semakin mencintai kamu.
Gal,
disini aku hanya ingin sedikit membagi kejujuran yang selama ini aku simpan
sendiri, serakah yah? Hehe.
Gal,
kamu ingat, beberapa bulan lalu, sebelum kamu memutuskan untuk menyatakan
perasaan kamu padaku, aku pernah pingsan hingga masuk rumah sakit? Kamu ingat,
Gal? Itu awal mula alasan yang sering aku lontarkan untuk menolakmu secara
halus.
Gal,
aku sakit. Parah. Penyakit yang bisa dibilang langka, kata dokter.
Gal,
aku sekarang menangis. Aku menyesal tak pernah berani mengungkapkan perasaanku
yang sebenarnya padamu, membiarkan kamu dalam dilema dan merasa dipermainkan. Kamu
tahu, Gal? Aku sedih sewaktu kamu bilang, setiap perempuan yang menjadi
pacarmu, punya kemungkinan besar jadi calon istrimu nanti. Aku sedih, karena
aku tahu, aku punya kemungkinan besar tak merasakan itu.
Gal,
satu jam lagi aku akan operasi, sumsum tulang belakang untuk mengobati
penyakitku, evan sindrom namanya, bagus yah? Hehe. Aku bilang, ini penyakit
bodoh, dia membuat antibodiku menyerang diriku sendiri. Aku harus beberapa kali
transfusi darah karena penyakit ini. Ayah dan Ibu sudah kewalahan membiayainya.
Gal,
maaf kalau aku terlihat begitu putus asa. Tidak seperti Kinan yang biasanya
kamu lihat, yang ceria, yang penuh tawa. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan,
dokter bilang, satu-satunya cara hanya operasi sumsum tulang belakang, tapi
biayanya sangat mahal, dan kemungkinan berhasilnya sangat minim, belum lagi
mencari pendonor sumsum tulang belakang sangat sulit. Aku tidak tega melihat
Ayah dan Ibu kerepotan karena aku, jadi, aku putuskan untuk menggunakan
tabungan pendidikanku demi operasi ini.
Gal,
betapa Tuhan sangat baik padaku telah mempertemukan aku denganmu. Kamu laki-laki
terbaik yang pernah aku temui, kamu baik, kamu penyayang, kamu sabar, kamu
pengertian, dan kamu tak pernah berhenti mencintaiku sedikitpun, sekalipun aku
berkali-kali mengatakan tidak. Kepedulianmu terhadapku justru bertambah.
Gal,
kalau kamu bisa melihatku setelah melihat surat ini, itu artinya kita jodoh,
yah :)
Tapi
kalau tidak, aku harap kamu bisa segera move on yah! Oh iya, aku harap kamu juga
menyukai hadiah yang mungkin menjadi hadiah pertama dan terakhir dariku untukmu,
Gal. Terima kasih atas semua kebahagiaan yang telah kamu lukiskan dipikiranku
dan segala kasih sayang yang kamu curahkan di hari-hari beratku belakangan ini,
tanpa kamu sadari, kamu menjadi penyemangatku selama ini, loh.
Galen,
kamu memang bukan laki-laki pertama yang aku sayangi, tapi kamu mungkin menjadi
yang terakhir bagiku. Aku juga mencintaimu, Galen... amat sangat mencintaimu..
Big love, your secret admirer
Kineta Latif
...

waaauww.... cerpenny sngat memukau !
BalasHapussalam kenal neng ^_@
sya follow di angka 10,,,di bls jg gpp koq ...hehehe :D
makasih mas hehe
BalasHapussalam kenal jugaaa :)
sediiiih :'(
BalasHapushehe makasih udah baca lindaaa :) *pukpuk :D
BalasHapusHuwaaa, mantep, tapi endingnya itu lho, gantung! *sama aja sama karya yang ngomen di atas
BalasHapusPas kalo lagi baca ini denger lagu Urban Zakappa - My Love