Langsung ke konten utama

The sorrow...




Selama ini aku selalu bermimpi. Selama ini aku selalu berharap.
Selama ini aku tidak pernah sekalipun berhenti untuk berkhayal tentang kita.
Selama ini aku terus memenuhi pikiranku tentang segala imajinasi positif tentang hari ini.
Selama ini aku berusaha, aku mencoba bertahan.
Kamu tahu, selama ini aku selalu menutupi segala masalah, segala beban, segala penyakit hati yang aku rasakan dan sangat ingin aku ceritakan padamu.
Hingga akhirnya semua itu melebur dengan sendirinya karena tak kunjung keluar dari mulutku. Hingga akhirnya aku tak ingat lagi semua tentang masalah itu.
Semua karena aku tidak ingin mengusikmu..
Karena aku berpikir, jika aku bisa menahan diri, maka aku akan mendapat hadiah yang menyenangkan di akhir penantianku nanti.
...
Tapi hari ini, saat aku berpikir bahwa semua penantianku akan berakhir...  Aku malah mendapatkan cerita baru.
Bahwa ini bukan akhir tapi awal. Sangat awal. Bahkan belum dimulai.
Dan aku sudah gentar. Kaki-kaki kecilku sudah tak mampu lagi berjalan tanpa bergetar.
Iya, aku hampir terkapar.
Ini konspirasi. Kamu dan keadaanmu bekerja sama untuk membuat aku jatuh dari tahtaku.
Tahta kesetiaanku, tahta pengorbananku, dan tahta ketegaranku.
Rasanya ingin aku mencaci kalian.. Berteriak pada kalian bahwa aku membenci kalian.
Tapi juga menyayangi kamu... berbisik padamu bahwa aku butuh kamu disini..
Namun juga mengakui bahwa menyayangimu dan mengertimu terlalu sulit untukku..

Oh semesta...
Haruskah semua kesakitanku kini hanya menjadi satu kata... sia-sia? :’)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Pengakuan Kinan

Aku berjalan cepat mengejar bis yang setiap harinya menuntutku untuk lebih gesit dari hari kemarin. Kaki-kaki kecilku melompati genangan demi genangan air sisa hujan semalam. Aku, dengan setelan serba gelap, seragam yang dibalut cardigan hitam, rok abu-abu, black flat shoes , dan tas hitam yang menggantung di pundak tangan kananku. Kaki-kaki kecilku semakin lambat berlari. Deru nafasku semakin jelas terdengar, naik-turun, tak terkendali. Rasanya lelah setiap pagi harus mengejar bis yang sama agar aku bisa sampai di sekolahku yang sangat-sangat jauh itu dengan biaya yang sangat-sangat murah. Jari-jariku melepaskan tiga lembar uang ribuan ke tangan kenek bis yang terus-menerus menggerakkan lengannya naik-turun hingga timbul dentingan-dentingan dari koin yang saling beradu. Aku mendapat kursi di belakang sopir bis. Beruntung, pagi ini aku tidak berdiri dengan tangan kanan terangkat, walaupun, teman sebangku-ku ini juga tidak bisa dikatakan beruntung, bapak setengah ...

Langga :)

Ini adalah sepenggal kisah tentang cinta. Cinta yang terluka dan sempat menyisakan sesal di dada. Anak laki-laki itu bernama Langga. Belakangan aku tahu dia anak SMA swasta untuk kalangan menengah ke bawah yang ada di kawasan sekolahku. Aku tahu namanya Langga, karena nama itu terpampang jelas di bagian kiri seragamnya ketika dia lupa memakai jaket kesayangannya. Jaket biru tua yang hampir lusuh dan hampir setiap hari dia pakai. Kini aku sudah kelas 3. Sudah masa-masanya mendekati Ujian Nasional yang katanya momok menakutkan bagi mayoritas siswa kelas 3. Dan karena momok itulah, tenagaku terkuras habis setiap harinya. Aku mengikuti bimbel di lebih dari satu tempat. Pertama, bimbel di sekolahku sendiri dari siang sampai sore, dan kedua bimbel di kawasan Padjajaran pada hari Selasa, Kamis dan Sabtu dari pukul tujuh sampai sembilan malam. Sungguh melelahkan tubuh dan pikiran, bukan? Phew. Tapi karena bimbel inilah, aku punya sesal dalam dada. Malam itu aku baru sa...

Namaku, Rindu...

Namaku Rindu, Ketika kita tidak saling bertemu Ketika panca indra tak mampu merasakan kehadiran kamu Ketika raga tak bisa lagi merasakan sentuhanmu Dan ketika detak jantung sudah tak berirama jika mengucap namamu Panggil aku rindu, Perasaan sesak di dada yang tak mampu menuruti keinginan jiwa Perasaan sakit saat aku tahu bahwa kamu tak ada lagi di sekeliling raga Aku rindu dan aku tersiksa Sebut aku rindu, Saat air mata menjadi bukti nyata adanya rasa pilu Saat hanya air mata yang mampu ikut merasakan rasa itu Saat air mata, adalah satu-satunya ekspresi jiwa yang bisa diluapkan seketika itu Ketika rindu itu merajalela Aku rindu dan aku sengsara Kenapa kamu harus pergi begitu jauh? Kenapa harus ada jarak untuk perasaan kita? Dan kenapa aku tak mampu untuk menerima jawaban yang ada... Kamu... aku rindu kamu.. Aku tak ingin menyalahkan keadaan, tapi keadaan memaksaku untuk mengumpatnya. Aku benci rasa rindu.. Sesak, kosong, dan merana.. Aku...