Langsung ke konten utama

Postingan

Secarik Rasa...

Secarik rasa... Untuk yang tercinta... Sebut aku Rasa. Aku adalah gadis mungil nan ceria yang kini sedang bergundah gulana. Hampir beberapa malam yang aku lewati di atas kasur empuk dan nyaman ini, aku lewati dengan diam dan merenung. Hei kamu, yang berada jauh di negeri antah berantah sana. Yang tidak pernah aku tahu bagaimana rupa negeri itu dan bagaimana rupamu ketika kamu berada disana. Hanya ada kamu di pikiran ini ketika malam tiba. Hei kamu, yang aku sebut segalanya bagiku. Setiap malam selalu jadi puncaknya rasa pilu karena kamu. Karena kamu yang aku tunggu. Adalah rasa pilu yang ada, ketika aku sadar bahwa kamu, kekasihku yang sangat menyayangiku dan aku sayangi, namun tidak mampu saling berbagi lagi seperti dulu sebelum kamu pergi. “Arrgggh!” Aku meremas kertas yang awalnya akan kujadikan media membuat puisi. Aku melempar buntalan kertas itu ke tempat sampah di pojokan kamar dengan emosi yang tak terbendung.      ...

Good Bye, Leksa!

Ku berlari kau terdiam, Ku menangis kau tersenyum, Ku berduka kau bahagia, Ku pergi kau kembali... Ku coba meraih mimpi, kau coba ‘tuk hentikan mimpi.. Memang kita takkan menyatu... Bait demi bait dari lirik lagu Cakra Khan itu sukses membuat air mataku deras mengalir. Malam ini, di kamar penuh pernak-pernik kota Paris yang aku banggakan ini. Aku yang seharusnya merasa senang, merasa girang. Lebih senang dari sekadar mendapat pulsa gratisan yang tidak sengaja nyasar ke nomorku ataupun lebih girang dari mendapat nilai tertinggi di kelas! Harusnya aku berteriak dan melompat-lompat di atas kasur malam ini karena saking bahagianya. Tapi nyatanya sekarang aku malah menangis, tersedu-sedu seperti gadis ABG yang baru putus cinta dari kekasih yang dia anggap belahan jiwanya. Ya Tuhan... ini jelas salah. Malam ini, aku baru saja dapat kabar dari media online yang menggelar ajang pamer sketch pakaian trendsetter 2012 yang menghadiahkan 8 orang pemenangnya untuk ...

When I wanna be Barbie....

Ketahuilah, bahwa cinta tak selamanya berujung cantik, secantik kamu memulainya. Aku menghela nafas sangat panjang. Helaan nafas yang entah keberapa kalinya di pagi ini. Kaki-kaki mungilku melangkah berat menapaki trotoar demi trotoar menuju sekolah baruku. SMA Jaya Wijaya, salah satu SMA swasta favorit di kota tempatku tumbuh. Saking favoritnya, sampai-sampai muncul anggapan bahwa semua siswa-siswi yang masuk SMA Jaya Wijaya adalah mereka yang terpilih. Bukan terpilih oleh guru, kepala sekolah atau bahkan nilai, tapi oleh kecantikan dan kepopuleran. Dan aku memilih masuk SMA Jaya Wijaya. Tapi aku tidak cantik dan tidak juga populer. “ Jadi, bakalan gimana nasib gue di sekolah nanti?” Itulah pertanyaan terbesarnya. ... “Dara, mau ke kantin nggak?” Tanya Elina. Gadis tambun yang aku temui di kelas pertama kali. Aku tersenyum dan mengangguki ajakannya. Elina memang tidak cantik, tubuhnya gembul dan tidak terlalu tinggi. Dia juga tidak populer. Itulah kenapa dia mau ...