Langsung ke konten utama

Rindu, rindu, rindu!


Tahukah kamu bahwa rindu tak bisa menunggu? Bahwa rindu bukan hanya sekedar kata tapi rasa.
Hey kamu, sadarkah kamu bahwa rindu tak mau menunggu? Tak terkecuali rinduku padamu.

Jangan tanyakan aku kenapa aku begitu rusuh hanya karena rindu. Karena aku sendiri tidak tahu. Yang pasti, rindu ini menyiksaku.
Kamu, laki-laki yang berbaju abu dengan celana jins biru. Berhentilah membuat aku rindu! Karena rindu ini menyiksaku. Bayang-bayangmu tak pernah minggat dari pikiranku. Pesonamu terlalu indah untuk aku palingkan dari diriku.
Berhentilah membiusku! Kamu tahu bahwa aku tak mampu melawan kharismamu. Kamu tahu bahwa kata cintamu sanggup meluluhlantakan duniaku.
Hanya dengan satu kata itu. Hanya dengan kata cinta.
Kamu berhasil mengambil semua kemudiku.
Tapi tetap saja kamu tidak bisa mengemudikan rasa rinduku, padamu.

Wahai kamu yang aku sebut rindu,
Pernahkah kamu merasakan sesak di dada seperti tak lagi merasakan udara?
Pernahkah kamu merasakan sesak di dada ketika melihat rupa yang sangat ingin kau jumpa?
Pernahkah juga kamu merasakan sesak di dada saat telingamu menangkap namanya mengudara?

Wahai kamu sang pemilik rindu,
Apakah jutaan air mata tak cukup meluluhkan keadaanmu?
Apakah jutaan doa dan tasbih tak cukup membuatku kembali dalam rengkuhanmu?
Dan apakah harus sampai jutaan detik terurai untuk membuatmu percaya aku masih menantimu?

Untuk kamu, yang aku sebut rindu..
Jangan biarkan rindu ini terus merantai hatiku. Aku mohon.. bebaskanlah aku dari jeratan rindu yang menggebu dan berbahagialah lagi bersamaku.
Tanpa rindu, tapi bertemu..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Pengakuan Kinan

Aku berjalan cepat mengejar bis yang setiap harinya menuntutku untuk lebih gesit dari hari kemarin. Kaki-kaki kecilku melompati genangan demi genangan air sisa hujan semalam. Aku, dengan setelan serba gelap, seragam yang dibalut cardigan hitam, rok abu-abu, black flat shoes , dan tas hitam yang menggantung di pundak tangan kananku. Kaki-kaki kecilku semakin lambat berlari. Deru nafasku semakin jelas terdengar, naik-turun, tak terkendali. Rasanya lelah setiap pagi harus mengejar bis yang sama agar aku bisa sampai di sekolahku yang sangat-sangat jauh itu dengan biaya yang sangat-sangat murah. Jari-jariku melepaskan tiga lembar uang ribuan ke tangan kenek bis yang terus-menerus menggerakkan lengannya naik-turun hingga timbul dentingan-dentingan dari koin yang saling beradu. Aku mendapat kursi di belakang sopir bis. Beruntung, pagi ini aku tidak berdiri dengan tangan kanan terangkat, walaupun, teman sebangku-ku ini juga tidak bisa dikatakan beruntung, bapak setengah ...

Langga :)

Ini adalah sepenggal kisah tentang cinta. Cinta yang terluka dan sempat menyisakan sesal di dada. Anak laki-laki itu bernama Langga. Belakangan aku tahu dia anak SMA swasta untuk kalangan menengah ke bawah yang ada di kawasan sekolahku. Aku tahu namanya Langga, karena nama itu terpampang jelas di bagian kiri seragamnya ketika dia lupa memakai jaket kesayangannya. Jaket biru tua yang hampir lusuh dan hampir setiap hari dia pakai. Kini aku sudah kelas 3. Sudah masa-masanya mendekati Ujian Nasional yang katanya momok menakutkan bagi mayoritas siswa kelas 3. Dan karena momok itulah, tenagaku terkuras habis setiap harinya. Aku mengikuti bimbel di lebih dari satu tempat. Pertama, bimbel di sekolahku sendiri dari siang sampai sore, dan kedua bimbel di kawasan Padjajaran pada hari Selasa, Kamis dan Sabtu dari pukul tujuh sampai sembilan malam. Sungguh melelahkan tubuh dan pikiran, bukan? Phew. Tapi karena bimbel inilah, aku punya sesal dalam dada. Malam itu aku baru sa...

Namaku, Rindu...

Namaku Rindu, Ketika kita tidak saling bertemu Ketika panca indra tak mampu merasakan kehadiran kamu Ketika raga tak bisa lagi merasakan sentuhanmu Dan ketika detak jantung sudah tak berirama jika mengucap namamu Panggil aku rindu, Perasaan sesak di dada yang tak mampu menuruti keinginan jiwa Perasaan sakit saat aku tahu bahwa kamu tak ada lagi di sekeliling raga Aku rindu dan aku tersiksa Sebut aku rindu, Saat air mata menjadi bukti nyata adanya rasa pilu Saat hanya air mata yang mampu ikut merasakan rasa itu Saat air mata, adalah satu-satunya ekspresi jiwa yang bisa diluapkan seketika itu Ketika rindu itu merajalela Aku rindu dan aku sengsara Kenapa kamu harus pergi begitu jauh? Kenapa harus ada jarak untuk perasaan kita? Dan kenapa aku tak mampu untuk menerima jawaban yang ada... Kamu... aku rindu kamu.. Aku tak ingin menyalahkan keadaan, tapi keadaan memaksaku untuk mengumpatnya. Aku benci rasa rindu.. Sesak, kosong, dan merana.. Aku...