Langsung ke konten utama

Postingan

Balada Hati, Senja...

Senja tak pernah bermimpi, hanya berharap. Menanti detik demi detik waktu berganti. Terus melukis mega menjadi jingga. Meski Senja tahu, bulan purnama ‘kan datang menyinari. *** Gemericik suara hujan masih terdengar di luar jendela. Seperti tahu ada yang sedang meratapinya dari dalam jendela. Senja tersenyum. Matanya menerawang keluar jendela. Melihat orang-orang berlarian menghindari hujan. Lalu terkekeh. “Kenapa mereka harus berlari menghindari hujan, kalau mereka bisa menari menikmatinya?” Bisiknya pada diri sendiri. Senja Adiraga. Gadis muda penuh talenta, dan cinta. Seluruh harinya hanya ada bahagia. Meski di satu masa pernah merasakan luka. Tapi, dia tetap ceria. Senja tak pernah menggerutu, kecuali melihat orang lain menggerutu di hadapannya. Senja tak pernah mengutuk, kecuali hatinya benar-benar merasa tertusuk. Cipratan demi cipratan sisa air hujan berterbangan di sekitar Senja. Sepatu boots biru lautnya terus menghantam genangan sisa air hujan hin...

Aku..

Selamat malam.. Aku baru saja ingin mengucap namamu, tapi kamu sudah muncul dahulu dalam khayalku. Hari ini sungguh lelah, tapi terasa indah kala memikirkanmu. Andai matahari tahu perasaanku, mungkin ia akan tersipu malu, hingga pagi pun akan terlambat bangun, dan tetes embun tetap lelap tertidur. Andai rembulan tahu perasaanku, mungkin ia akan berubah menjadi biru, hingga para bintang ikut tersedu. Andai... andai... andai... Andai dunia tahu perasaanku, mungkinkah ia akan berhenti berputar karenamu? Ttd : Aku

Kupu - kupu Alila...

Hati ini berdebar. Berbunga. Bergejolak. Hati ini dipenuhi warna merah muda. Digelitiki ratusan ekor kupu-kupu. Lagi-lagi, hati ini berbunga. Hati ini jatuh cinta. Udara dingin menulusup tajam ke tulang rusukku. Pukul 10 malam. Aku masih terjaga, dibalut piyama hitam-putih kegemaranku, memandang ratusan juta bintang yang tertatap oleh sepasang mata bulatku dari gazebo belakang rumah. Namaku, Alila. Dan aku pecinta bintang. Bintang itu genit, selalu kedapatan sedang memandangku ketika aku mendongak. Udara yang sama menelusup tulang rusuk pecinta bintang yang lain. Dia masih terjaga. Memandang bintang bukan hanya sebagai benda langit tak bernyawa. Di matanya, bintang adalah anugerah semesta. Cara semesta memberitahu kita, bahwa dunia tak hanya tentang kita. Ada mereka, bintang-bintang yang seakan berbisik. Baginya, bintang adalah cara, menyampaikan isi hatinya pada orang terkasihnya. Namanya, Angga. Dan dia pecinta bintang. Bintang itu pemalu , katanya. *...

Masih aku dan kamu. titik.

Ini masih tentang aku dan kamu. Selamat pagi wahai kamu sang penyuka gerhana. Pagi ini, aku masih mematung disini sembari memuja cahaya. Padahal kamu sudah berlari menembus bukit setelah gerhana. Aku si pengagum cahaya. Kamu si penyuka gerhana. Aku berlari dalam keramaian. Mencari seberkas cahaya dalam waktu yang lama. Kamu berjalan dalam ketenangan. Merasakan hembusan udara dalam jiwa sukacita. Aku bahagia jika malam tiba. ketika bintang di dunia mulai bercahaya. karena jika malam tiba, temaram lampu jalan mulai bisa aku rasa. Kamu bahagia jika malam tiba. ketika bintang di dunia mulai bercahaya. karena jika malam tiba, pertanda fajar perlahan akan berkuasa. Aku menyukai malam. Kamu menyukai siang dan malam. Setidaknya, kita masih punya kesamaan. Lalu aku sadar, aku menyukai malam.. karena aku jatuh cinta pada cahaya. ttd: Aku.

Aku dan kamu. Titik.

Ini hanya sepenggal cerita tentang aku dan kamu. Titik. Aku si pengagum cahaya dan kamu si penyuka gerhana. Kita hampir serupa tapi tak sama. Berdiri mematung di bawah lampu jalan dan menikmati temaramnya hampir semalaman. Itu aku. Sendiri mematung di atas bukit tertinggi dan menanti fenomena alam hampir semalaman. Itu kamu. Ramai tapi tenang. langka tapi hangat. Itu aku dan kamu. Titik.

Sebuah Cerita, Sebuah Realita (2)

Aku masih diam disini. Diantara rerumputan hijau menyegarkan mata. Memandang awan dengan pikiran yang berkelana. Namaku Larasita, dan aku tidak ada duanya. *** Besok adalah hari dimana aku dan Reksa tepat empat bulan menjalin hubungan yang penuh komitmen ini. Aku berniat pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa barang yang bisa aku gunakan untuk merayakan hari jadi kami. Sendirian. Aku mengaitkan sepasang headset yang sudah mendendangkan lagu-lagu klasik favoritku ke dalam lubang telingaku.   Salah satu kebiasaanku, adalah berjalan di sepanjang trotoar sembari mendengarkan lagu-lagu klasik atau lagu-lagu inspiratif yang bisa menggugah pikiran positifku. Hiruk pikuk jalanan di sampingku menjadi tak berarti, malah sering kujadikan hiburan karena melihat wajah-wajah kesal orang yang terjebak macet itu, lucu. Sepasang flatshoes cokelatku kini sudah berpijak diatas lantai marmer sebuah pusat perbelanjaan besar di kotaku. Salah satu pusat perbelanjaan para kau...

Sebuah Cerita, Sebuah Realita

Dunia ini berputar.. Kadang hitam kadang putih.. Kadang bahagia dan kadang sedih.. Aku termenung di sebuah padang rumput hijau nan luas. Sejauh mata memandang hanya ada rumput dan deretan awan yang biru merekah. Semilir angin membawaku pada banyak cerita yang sarat akan rasa. Sedih, merana, tapi juga bahagia. Terlalu banyak kisah yang berebut ingin kembali diingat oleh memoriku yang sudah menampung banyak masalah ini. Hingga akhirnya, mereka terpaksa mengantri. Berada di ruangan baru, suasana baru, dan ditengah orang-orang baru yang belum aku kenal. Aku merasa sendirian. Duduk di bangku paling belakang sembari mengutak-atik ponsel butut ku menjadi cara paling ampuh untuk membunuh peluang ‘mati gaya’ saat itu. Pukul setengah tujuh pagi, lama kelamaan ruangan ini mulai ramai dipenuhi sosok putih abu sama sepertiku. Perlahan mereka mulai berkubu, mencari teman yang sejenis dengan mereka atau mencari teman yang sudah mereka kenal sebelumnya. Dan aku? Aku masih duduk men...